PERAN DAN TANGGUNG JAWAB WANITA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Oleh : Ummu Khoir
http://www.al-ihsas.org
Pengkajian yang seksama terhadap syariat Islam, akan memberikan
kesimpulan bahwa Islam menetapkan beberapa tugas pokok bagi wanita.
Tugas Utama Wanita
Tugas utama (pokok) seorang wanita adalah sebagai ibu dan manajer
(pengatur) rumah tangga. Ini adalah pandangan yang jernih dan benar
terhadap wanita. Sebab tugas ini hanya dikhususkan kepada wanita dan
terlaksananya tugas ini akan dapat menjamin lestarinya generasi manusia
serta menjamin ketenangan hidup individu manusia dalam keluarganya.
Lestarinya jenis manusia adalah suatu perkara yang sangat penting,
sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan kehidupan di alam (dunia)
ini. Apakah artinya usaha dunia melestarikan lingkungan hidup dan
satwa-satwa tanpa memperhatikan kelestarian generasi manusia. Alam ini
dan seisinya diciptakan oleh Al Khalik (Pencipta manusia) untuk menopang
kehidupan manusia, agar bisa dimanfaatkan olehnya.
Sungguh ironis sekali apa yang dilakukan oleh dunia (khususnya
Barat) saat ini, yaitu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga
kelestarian alam, namun disisi lain mengabaikan kelestarian manusia.
Bahkan berupaya memusnahkannya (sadar atau tidak sadar). Padahal ini
bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri.
Semua orang baik laki-laki maupun wanita ingin memiliki keturunan.
Mereka akan merasakan kesempurnaan hidup bila sudah memiliki generasi
yang bisa meneruskan keluarganya. Maka logis sekali bila pasangan
suami-istri yang belum punya keturunan (padahal sudah menikah lama) akan
berusaha sekuat tenaga bagaimana supaya bisa menghasilkan keturunan,
sekalipun harus dibayar dengan harga yang mahal.
Allah SWT telah menanamkan fitrah ke dalam diri manusia untuk
mengembangkan keturunan, agar generasi manusia bisa dipertahankan
kelestariannya dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi ini.
Dari usaha melanjutkan keturunan ini, Allah telah menetapkan bahwa
wanitalah tempat "persemaian" generasi manusia ini. Hal ini harus kita
fahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang
demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki.
Untuk menjamin kelangsungan hidup generasi manusia ini, Allah SWT
telah menetapkan beberapa hukum yang khusus untuk wanita. Diantaranya
hukum tentang kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa
iddah bagi wanita yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan
Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dia mampu
menjalankan tugasnya dengan baik, seperti:
tidak wajib bekerja untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya
boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui
larangan bagi laki-laki untuk membawa anak (kecil)nya bepergian (jauh) bila anak masih dalam pengasuhan (hadlonah) ibunya
Semua hukum-hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya terlaksana dengan baik (sebagai ibu).
Islam telah menempatkan wanita dengan tugasnya sebagai ibu sebagai
posisi yang mulia, mengingat pentingnya peran ibu dalam keberlangsungan
generasi manusia. Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu memelihara
janin yang dikandungnya selama + 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia
ke bumi ini. Demikian pula dengan kerelaan dan kesabarannya
ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap
pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang
ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang
prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.
Rasulullah saw bersabda:
"…Tidaklah seseorang diantara kamu merasa ridlo jika ia hamil dari hasil dengan
suaminya dan suaminya merasa bangga dengan kehamilannya itu; bahwa wanita tersebut
mendapat pahala sama dengan seorang prajurit yang puasa ketika berperang di jalan
Allah…(HR. Ibnu Atsir).
Peluang Wanita Berperan dalam Pendidikan Generasi
Seorang ibu mengandung janin (calon anak manusia) dalam rahimnya
selama + 9 bulan. Setelah lahir ke dunia ia menyusuinya selama 2 tahun
serta mengasuhnya sampai mampu mandiri (+ usia 6-9 tahun), yakni mampu
mengurus diri sendiri dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk. Inilah aktivitas minimal yang harus dilakukan seorang ibu
terhadap anaknya (secara langsung). Dalam keadaan ini berarti seorang
ibu memiliki peluang yang besar untuk berperan dalam proses perkembangan
seorang anak (minimal 6-9 tahun). Bahkan pada masa awal kehidupan anak
ini, peran ibu sangat menentukan kondisi perkembangannya. Dengan
demikian, peran ibu sangat besar pengaruhnya dalam proses pendidikan
anak, terutama di masa awal perkembangannya. Dan inilah yang menjadi
dasar (basic) pada proses pendidikan selanjutnya.
Seorang anak bagaikan selembar kertas putih bersih tanpa ada coretan
(tulisan) maupun warna. Orang tuanya lah yang berperan menentukan
coretan-coretan dan warna apa yang akan diberikan pertama kali. Dan ini
merupakan warna dasar yang akan menentukan warna apa yang akan
diterima/dipilih pada proses pewarnaan selanjutnya. Kalau pewarnaan
dasar telah menghasilkan warna yang khas, maka warna dasar inilah yang
akan menyeleksi warna apa yang akan diterimanya dan diserap kemudian.
Sebaliknya jika warna dasar tidak khas dan tidak jelas, maka tidak akan
ada proses seleksi untuk menerima warna berikutnya. Bisa jadi warna
apapun akan diterima sehingga menjadi warna yang berantakan (tidak khas)
dan hasilnya juga akan kacau. Demikianlah permisalan gambaran tentang
proses pendidikan pada seorang anak dalam rangka membentuk
kepribadiannya. Sebab anak memang dilahirkan dalam keadaan suci
(fitrah). Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
"Tidak ada seorang anakpun yang baru lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan suci.
Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau
Musyrik"(HR Muslim).
Seorang ibu memiliki kesempatan dan potensi yang lebih besar untuk
berperan secara langsung dalam proses pemberian warna dasar pada anak ,
yakni peletak dasar/landasan pembentukan kepribadiannya. Sebab ibulah
yang paling dekat dengan anak sejak awal pertumbuhannya, sesuai dengan
tugas pokoknya. Sedangkan ayah kemungkinan besar lebih banyak di luar
rumah karena menjalankan tugasnya mencari nafkah keluarga. Sekalipun
demikian, ayah tetap dituntut peran dan tanggung jawabnya dalam proses
pembentukan kepribadian anak. Sebab tugas mendidik anak adalah tanggung
jawab kedua orang tuanya, bukan hanya ibu.
Seorang ibu bisa memulai proses pendidikan pada anaknya sejak janin
(masih dalam kandungan). Minimal yang harus dilakukan seorang ibu
terhadap janin dalam kandungannya adalah memilihkan makanan yang halal
dan baik untuk membesarkan janin. Senantiasa berdzikir dan berdo'a
kepada Allah SWT, ketika merasakan setiap gejala yang diakibatkan
keberadaan janin dalam kandungan. Tidak mengeluh terhadap rasa sakit
yang dialaminya di saat hamil, tetapi sepenuhnya berserah diri kepada
Allah dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah agar tetap bisa
menunaikan segala kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan
kepadanya. Berupaya menenangkan perasaan/emosionalnya dengan membaca
ayat-ayat Al Qur'an, sehingga suasana hatinya tetap tenang dan ikhlas
menjalani masa kehamilannya. Sebab kondisi psikologis seorang ibu
menurut pendapat para ahli akan berpengaruh pada perkembangan janin yang
dikandungnya.
Demikian pula setelah anak lahir, ibu berperan besar untuk
menciptakan kondisi lingkungan tempat anak dibesarkan. Suara apa yang
pertama didengarnya ketika pertama kali ia bisa mendengar. Pemandangan
seperti apa yang dilihatnya ketika ia pertama kali melihat. Kata-kata
apa yang diucapkannya ketika ia pertama kali berbicara. Dan lingkungan
pertama yang masuk ke dalam 'rekaman kaset kosong' seorang anak adalah
rumahnya. Apa-apa yang ada di dalam rumahnya itulah yang pertama
direkamnya, terutama yang paling dekat kepadanya adalah ibu. Oleh karena
itu ibulah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Anehnya, saat ini banyak orang tua yang harus mengikuti kehendak
anaknya. Bukan anak yang mengikuti kehendak orang tuanya. Ini sudah
merupakan suatu problema yang sering muncul di kalangan orang tua saat
ini. Bahkan problema ini sudah tersebar luas di mana-mana. Anak
mempunyai keinginan - yang lebih besar dipengaruhi lingkungannya - yang
berbeda dengan keinginan orang tuanya. Bahkan di aberani menentang orang
tuanya demi mewujudkan keinginannya. Hal iniberarti orang tua telah
gagal mengisi kaset kosongnya dan memberi warna dasar pada kertas
putihnya, yang mampu menjadi landasan perkembangan kepribadian anak
serta tolok ukur untuk menyaring informasi dan perilaku serta memilih
warna-warna yang ada di luar rumahnya, mana yang akan diambil dan mana
yang ditolak.
Wahai para muslimah…optimalkanlah peran untuk mengisi kaset-kaset
kosongmu serta memberi warna dasar pada kertas-kertas putihmu yang
bersih. Terlaksananya peranmu ini sangat menentukan warna generasi di
masa datang.
Potensi Wanita Muslimah dalam Pendidikan Generasi
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa peran wanita sangat besar artinya
dalam pembentukan generasi di masa datang, mengingat besarnya peluang
dan kesempatan wanita (seorang ibu) berperan mengawali proses pendidikan
anak-anaknya sejak dini. Potensi dan kemampuan para wanita muslimah
sangat berpengaruh besar membentuk warna dan corak generasi umat Islam
di masa datang.
Wanita yang lemah, bodoh dan berperilaku buruk akan menghasilkan
generasi yang warnanya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sebab di masa
awal, anak mendapatkan teladan yang buruk untuk membentuk eksistensi dan
kepribadian dirinya. Anak akan menyerap informasi dan perilaku apapun
yang ada didekatnya tanpa bisa memilah-milah mana yang baik dan mana
yang buruk. Sebaliknya kalau wanitanya pintar (menguasai tsaqofah
Islam), cerdas, kreatif, berperilaku baik serta berkepribadian Islam
yang tinggi, maka warna dasar di masa datang akan baik. Bahkan kalau
perannya berjalan optimal, wanita seperti ini akan mampu membentuk
generasi yang tangguh, yang tidak terombang-ambing oleh ombak kehidupan.
Mereka akan tetap mampu bertahan dan berdiri dengan tegar serta kokoh
prinsip hidupnya, apapun kondisi yang menghadangnya.
Seorang ibu harus mampu mendidik anak-anaknya dengan landasan rasa
cinta dan kasih sayang yang benar, sehingga anak-anaknya pun akan
mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang benar pula terhadap orang tua
dan keluarganya. Rasa cinta dan kasih sayang yang benar adalah yang
mendahulukan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.
Dengan demikian rasa cinta pada anak tidak akan menghalangi seorang ibu
untuk mendidik anaknya menjadi mujahid yang rela mengorbankan jiwanya
untuk Islam. Demikian pula seorang anak tidak terhalangi mengorbankan
miliknya yang paling berharga untuk memperjuangkan tegaknya Islam,
sekalipun harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.
Banyak sudah contoh para ibu yang berhasil mengarahkan dan mendidik
anaknya menjadi anak-anak yang patuh dan berbakti kepada orang tuanya,
dan memiliki semangat ruhiyah yang tinggi untuk mengamalkan dan
memperjuangkan Islam. Diantaranya adalah Asma' binti Abu Bakar dan Al
Khansa.
Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq adalah salah seorang ibu yang patut
diteladani. Beliau telah berhasil mendidik anaknya Abdullah bin Zubair
sebagai pahlawan Islam yang tangguh imannya dan selalu menginginkan
ridlo Allah dan ridlo ibu bapaknya. Dapat kita simak dari petikan
percakapan Asma' dengan putranya Abdullah di saat-saat akhir hayatnya,
ketika ia memimpin perlawanan dalam perselisihan dan peperangannya
dengan tentara-tentara Mu'awiyah dan puteranya Yazid. Menurut Abdullah,
Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan adalah laki-laki yang terakhir kali
dapat menjadi khalifah muslimin, seandainya memang dapat…., karena
ketidak becusannya dalam soal apapun.
Ditemuinya ibundanya Asma' dan dipaparkannya dihadapannya suasana
ketika itu secara terperinci, begitu pun mengenai akhir kesudahan yang
sudah nyata tak dapat dielakkan lagi….
Kata Asma' kepada putranya: "Anakku, engkau tentu lebih tahu tentang
dirimu! Apabila menurut keyakinanmu, engkau berada di jalan yang benar
dan berseru untuk mencapai kebenaran itu, sabar dan tawakallah dalam
melaksanakan tugas itu sampai titik darah penghabisan. Tiada kata
menyerah dalam kamus perjuangan melawan kebuasan budak-budak Bani
Umaiyah…! Tetapi kalau menurut pikiranmu, engkau hanya mengharapkan
dunia, maka engkau adalah seburuk-buruk hamba, engkau celakakan dirimu
sendiri serta orang-orang yang tewas bersamamu!"
Ujar Abdullah: "Demi Allah, wahai bunda! Tidaklah ananda
mengharapkan dunia atau ingin hendak mendapatkannya…! Dan sekali-kali
tidaklah ananda berlaku aniaya dalam hukum Allah, berbuat curang atau
melanggar batas…!"
Kata Asma' pula: "Aku memohon kepada Allah semoga ketabahan hatiku
menjadi kebaikan bagi dirimu, baik engkau mendahuluiku menghadap Allah
maupun aku. Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, shaum sepanjang
siang dan bakti kepada kedua orang tuanya. Engkau terima disertai
cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu tentang dirinya
kepada kekuasaan-Mu dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah
berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubair ini,
pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur…!"
Kemudian mereka pun berpelukan menyatakan perpisahan dan selamat
tinggal. Beberapa hari kemudian, Abdullah bin Zubair terlibat dalam
pertempuran sengit yang tak seimbang, sehingga Syahid agung itu akhirnya
menerima pukulan maut yang menewaskannya. Tubuhnya diangkat oleh Hajaj
bin Yusuf, antek Bani Umaiyah, kemudian disalib untuk menghina ibunya,
keluarganya dan penduduk Mekkah. Hal itu diketahui Asma'. Ia mengetahui
bagaimana keberanian anaknya dan tentang kegugurannya. Ia bersyukur
kepada Allah karena sang anak gugur dalam mempertahankan prinsip dan
keyakinannya. Ia berdo'a kepada Allah agar tidak mati sebelum dapat
mengurus jenazah anaknya yang suci itu. Do'anya dikabulkan Allah.
Sikapnya terhadap anaknya, ketika sang anak meminta nasehat
kepadanya, betul-betul suatu sikap yang membuat algojo yang paling
bengis tidak berkutik.
Demikian pula Al Khansa, beliau seorang ibu yang terkenal mampu
memberikan dorongan yang kuat kepada putranya untuk berjihad. Beliau
seorang ibu yang sabar dan tabah menerima berita bahwa semua anaknya
telah syahid satu demi satu dalam satu peristiwa, yaitu di peperangan
Qodisyiah. Beliau merupakan contoh wanita yang mempunyai kebesaran jiwa
melebihi wanita-wanita lain. Keberanian putra-putranya, keluhuran akhlaq
mereka, kefasihan lidah dan keahlian mereka dalam bersyair menjadikan
Al Khansa tersohor sebagai wanita yang berhasil sebagai ibu dan pantas
menjadi teladan.
Al Khansa memiliki iman, kesabaran dan ketaqwaan yang mantap. Dia
selalu ikut andil dalam setiap perjuangan demi tegaknya Islam. Pada
tahun 14 H, saat terjadi perang Qodisyiah dia datang bersama keempat
anaknya untuk ikut bergabung bersama kaum muslimin lainnya. Mereka
diberi bekal berupa dorongan dan semangat dengan kata-kata yang
menyala-nyala:
"Wahai putra-putraku! Kalian masuk Islam dengan penuh kesadaran.
Kalian berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, tiada Tuhan selain
Dia. Kalian adalah empat bersaudara dari satu ayah dan satu ibu. Aku
tidak akan mencampuri kehormatan kalian, tetapi kalian telah mengetahui,
apa yang dijanjikan bagi kaum muslimin yang memerangi kaum kafir.
Sadarilah…! Kehidupan akhirat lebih kekal dan lebih baik dari kehidupan
dunia yang sementara ini. Bulatkan tekad dan kesabaran kalian.
Bertaqwalah kalian selalu agar apa yang kau inginkan berhasil.
"Wahai putra-putraku ! Jika kalian lihat api peperangan telah
berkecamuk dan menjadi dahsyat, masuklah kalian dengan semangat yang
menyala-nyala. Disanalah kalian akan menemukan keuntungan dan kehormatan
di alam abadi dan kekal".
Berbekal semangat yang dipompakan ibunya itu, keempat anak Al Khansa
pun berangkat ke medan perang dengan penuh iman dan keberanian. Tujuan
mereka satu yaitu mencari syahadah, dan itu pun diperolehnya. Mereka
gugur dalam pertempuran itu. Sementara ummat Islam memperoleh
kemenangan, Al Khansa menerima kabar keadaan putranya dengan penuh
sabar. Bahkan kebanggan tumbuh dihatinya, melihat putra-putranya menjadi
syuhada dalam pertempuran besar itu. Dia berkata: "Alhamdulillah…!
Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian
anak-anakku sebagai syuhada. Aku mengharap semoga Allah mengumpulkan aku
dengan mereka di dalam rahmat-Nya kelak".
Ini adalah dua diantara sekian ibu teladan yang mampu menghantarkan
putra-putranya menjadi para mujahid yang tangguh, rela mengorbankan
miliknya yang paling berharga untuk kejayaan/ketinggian Islam. Masih ada
contoh lain para ibu yang mampu menghantarkan putranya menjadi ilmuwan
bahkan mujtahid. Diantaranya: Ibunda Imam Abu Hanifah, Ibunda Imam
Syafi'I, Ibunda Imam Ahmad bin Hambal dan Ibunda Imam Bukhari. Keempat
imam ini ditinggal ayahnya sejak kecil (yatim), ibunyalah yang
memelihara dan mendampingi mereka hingga besar. Mereka memiliki daya
hafal yang tinggi sejak kecil. DI usia mudanya mereka sudah menguasai
bahasa Arab dan seluk beluknya, hafal ayat-ayat Al Qur'an dan
hadits-hadits Nabi, serta sangat gemar menuntut ilmu. Memang untuk
menguasai banyak ilmu mereka belajar dari banyak guru. Belajar bahasa
Arab ke beberapa orang guru, fiqih ke beberapa orang guru, dan hadits
Nabi ke beberapa orang guru. Tapi setidaknya ibunda para imam tersebut
telah mampu mendidik mereka menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu
dan tidak kenal lelah. Satu hal yang lebih penting lagi adalah mereka
punya rasa kemandirian yang tinggi sejak usia muda, sebab para imam
tersebut rata-rata berada dalam kehidupan yang miskin. Mereka berusaha
sendiri mencari biaya untuk kebutuhan hidupnya dan biaya perjalanan,
sebab mereka belajar ke berbagai kota. Imam Ibnu Hambal misalnya, beliau
pernah bekerja di tukang-tukang jahit,
memungut sisa-sisa panen yang tertinggal setelah meminta ijin pada
pemiliknya, mencari upah dari menenun kain dan menulis, bahkan pernah
mencari upah dengan mengangkut barang-barang di perjalanan seperti kuli
angkut. Semua ini beliau lakukan untuk keperluan hidupnya dan biaya
perjalanannya agar bisa menuntut ilmu.
Dari contoh-contoh ini kita dapati betapa besar peran ibu
mendampingi dan mengarahkan anak-anaknya. Kemiskinanpun tidak
menghalangi seorang ibu untuk menghantarkan anak-anaknya menjadi orang
yang berilmu sebab seorang ibu bisa menanamkan rasa kemandirian yang
tinggi kepada anaknya agar sanggup berkorban apapun demi meraih
kemuliaan hidupnya di hari akhir nanti (di hadapan Allah SWT).
Dengan demikian agar peran wanita muslimah dalam pendidikan generasi
di masa datang bisa optimal untuk menghasilkan generasi para mujahid
tangguh, politikus ulung dan para mujtahid, maka proses pembinaan para
wanita muslimah tidak boleh dicukupkan ala kadarnya apalagi diabaikan.
Para wanita muslimah harus dibina dengan tsaqofah Islam secara mapan
atau mendalam, sehingga dia mampu mengarahkan dan bahkan mendidik
anak-anaknya menjadi generasi-generasi yang diharapkan mampu berperan
meraih kejayaan Islam kembali.
Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anak-anaknya menjadi
mujahid kalau dia tidak memahami betapa mulianya kedudukan seorang
mujahid. Mana mungkin seorang ibu mampu menghantarkan seorang anak
menjadi ulama sementara dia buta terhadap tsaqofah Islam. Apalagi kalau
dorongan ruhiyahnya tidak ada. Dorongan ruhiyah sebagai kekuatan
pokok yang menggerakkan seorang ibu untuk berperan optimal.
Bagaimana mungkin seorang ibu mampu mendidik anaknya menjadi
pejuang-pejuang Islam kalau dirinya sendiri masih enggan berkorban untuk
Islam. Dia masih lebih mengutamakan kemapanan materi daripada berbuat
sesuatu yang lebih mulia di hadapan Allah. Ia masih lebih mencintai
urusan dunianya daripada melakukan kewajibannya kepada Allah. Mustahil
ibu seperti ini akan mampu mencetak generasi harapan umat untuk meraih
kebangkitan dan kejayaan Islam kembali.
Wahai para muslimah…dengan berfikir secara jernih dan mendalam, mari
kita berbenah diri, membekali diri kita dengan memperkaya tsaqofah
Islam dan membentuk ruhiyah yang tinggi agar kita menjadi ibu-ibu yang
mampu mengubah corak generasi kita, sebagai peletak dasar warna dan
corak generasi manusia di masa datang.
Khatimah
Demikianlah gambaran tentang besarnya peran dan tanggung jawab
wanita dalam proses pendidikan generasi. Namun ini baru peran minimal
yang terbatas pada lingkup keluarga serta wadah yang tidak formal. Masih
ada peran lain yang harus diterjuninya sebagai wujud pelaksanaan
kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, yakni mendidik/membina masyarakat
agar senantiasa terikat syariat Islam. Sebab wanita juga terkena
kewajiban amar ma'ruf nahi munkar.
PUSTAKA
Abdul Badi' Shaqr. Wanita-wanita Pilihan. Pustaka Manthiq. 1990.
Ahmad Asy Syurbasy. Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab.
Jabir Asysyaal. Al Qur'an bercerita Soal Wanita. GIP. 1989.
Khalid Muh. Khalid. Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah. CV Diponegoro. Bandung. 1981.
Nashir bin Sulaiman Al-'Umr. Kedudukan Ilmu dan Ilmuwan dalam Islam. Pustaka Al Kautsar. 1994.
Shahih Muslim.
Taqiyuddin An Nabhany. Al Mafahimu. 1953. Al Quds.
Taqiyuddin An Nabhany. An Nizhomul Ijtima'iy fil Islam. Darul Ummah. Beirut.
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB WANITA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Oleh : Ummu Khoir
http://www.al-ihsas.org
Pengkajian yang seksama terhadap syariat Islam, akan memberikan
kesimpulan bahwa Islam menetapkan beberapa tugas pokok bagi wanita.
Tugas Utama Wanita
Tugas utama (pokok) seorang wanita adalah sebagai ibu dan manajer
(pengatur) rumah tangga. Ini adalah pandangan yang jernih dan benar
terhadap wanita. Sebab tugas ini hanya dikhususkan kepada wanita dan
terlaksananya tugas ini akan dapat menjamin lestarinya generasi manusia
serta menjamin ketenangan hidup individu manusia dalam keluarganya.
Lestarinya jenis manusia adalah suatu perkara yang sangat penting,
sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan kehidupan di alam (dunia)
ini. Apakah artinya usaha dunia melestarikan lingkungan hidup dan
satwa-satwa tanpa memperhatikan kelestarian generasi manusia. Alam ini
dan seisinya diciptakan oleh Al Khalik (Pencipta manusia) untuk menopang
kehidupan manusia, agar bisa dimanfaatkan olehnya.
Sungguh ironis sekali apa yang dilakukan oleh dunia (khususnya
Barat) saat ini, yaitu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga
kelestarian alam, namun disisi lain mengabaikan kelestarian manusia.
Bahkan berupaya memusnahkannya (sadar atau tidak sadar). Padahal ini
bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri.
Semua orang baik laki-laki maupun wanita ingin memiliki keturunan.
Mereka akan merasakan kesempurnaan hidup bila sudah memiliki generasi
yang bisa meneruskan keluarganya. Maka logis sekali bila pasangan
suami-istri yang belum punya keturunan (padahal sudah menikah lama) akan
berusaha sekuat tenaga bagaimana supaya bisa menghasilkan keturunan,
sekalipun harus dibayar dengan harga yang mahal.
Allah SWT telah menanamkan fitrah ke dalam diri manusia untuk
mengembangkan keturunan, agar generasi manusia bisa dipertahankan
kelestariannya dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi ini.
Dari usaha melanjutkan keturunan ini, Allah telah menetapkan bahwa
wanitalah tempat "persemaian" generasi manusia ini. Hal ini harus kita
fahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini. Sebab hal yang
demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki.
Untuk menjamin kelangsungan hidup generasi manusia ini, Allah SWT
telah menetapkan beberapa hukum yang khusus untuk wanita. Diantaranya
hukum tentang kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa
iddah bagi wanita yang ditinggal suami (karena cerai/meninggal). Bahkan
Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dia mampu
menjalankan tugasnya dengan baik, seperti:
tidak wajib bekerja untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya
boleh berbuka puasa pada bulan Ramadhan bagi wanita hamil dan menyusui
larangan bagi laki-laki untuk membawa anak (kecil)nya bepergian (jauh) bila anak masih dalam pengasuhan (hadlonah) ibunya
Semua hukum-hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya terlaksana dengan baik (sebagai ibu).
Islam telah menempatkan wanita dengan tugasnya sebagai ibu sebagai
posisi yang mulia, mengingat pentingnya peran ibu dalam keberlangsungan
generasi manusia. Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu memelihara
janin yang dikandungnya selama + 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia
ke bumi ini. Demikian pula dengan kerelaan dan kesabarannya
ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap
pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak. Posisi seorang wanita yang
ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang
prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.
Rasulullah saw bersabda:
"…Tidaklah seseorang diantara kamu merasa ridlo jika ia hamil dari hasil dengan
suaminya dan suaminya merasa bangga dengan kehamilannya itu; bahwa wanita tersebut
mendapat pahala sama dengan seorang prajurit yang puasa ketika berperang di jalan
Allah…(HR
Cerita Seru
Udah 3 hari belakangan ini Cynthia numpang menginap di kost-an ku
yangkecil. Awalnya saya agak khawatir dengan perubahan suasana ini.
Cynthia cuma menumpang sementara di sini, padahal saya bingung "gimana
perasaan cewe gue". Untuk mencari penegasan saya tatap wajah muda
Cynthia yang cantik dan lucu. Cynthia membalas tatapan saya tanpa
berkedip. Sebersit saya membaca kegenitan di dalamnya, sayapun menyerah…
Hari pertama.
Cynthia nampak begitu kalem dan sopan, ketika itu si Avi (cw gue)
juga ada dan dia oke-oke aja setelah mendapat penjelasan logis. Avi
duduk di sofa di depan TV, dan saya duduk di bangku di depan meja
komputer. Cynthia nampak menjaga jarak dengan saya, dia duduk tidak
bergeming disamping Avi sambil menikmati soap opera dan MTV (Music
Television). Saya mencoba menggoda Cynthia, tapi female satu ini
seperti batu, Avi dan dia menatap tanpa berkedip tabung kaca itu seperti
orang dalam pengaruh hipnotis.
Hari pertama agak sorean.
Problem mulai muncul ketika Avi pulang meninggalkan kost-an,
membiarkan saya dan Cynthia berdua di kamar kost adalah hal yang
janggal, saya tidak tahu harus bersikap bagaimana, saya grogi dan
nerveous apalagi begitu mobil Avi berlalu, Cynthia langsung mendekati
saya dengan penuh roman. Saya duduk di sofa dengan perasaan tidak
nyaman. Cynthia mendekati saya dan ikut duduk di samping. Kaki saya
yang terjulur ke atas coffe table di sentuhnya dengan halus, pinggang
saya disenderinya dengan santai, merasa agak terganggu, saya berdiri dan
pindah duduk di depan komputer lagi. Cynthia mengikuti, saya
berpura-pura sibuk membuka internet, tapi Cynthia berdiri di sana
menatap saya dengan pandangan yang sendu dan mengundang. Saya tanyakan,
"apa kamu belum makan siang?". Tapi Cynthia tetap terdiam seakan dia
meminta sesuatu yang lain. Saya termangu tidak mengerti apa maksudnya.
Tapi karena saya ini termasuk laki- laki yang tahan godaan, jelas
saya tidak mau berpikiran yang bukan-bukan. Saya cuekin Cynthia
seharian.
Hari kedua.
Cynthia makin liar menjadi-jadi, Cynthia menggoda saya
habis-habisan. Tubuhnya yang langsing selalu dicoba ditempeli saya
secara kurang ajar. Walaupun Cynthia cantik, dan suaranya lembut
menarik, saya tidak mau jatuh tertarik padanya. Ketika saya bentak,
"Cynthia Please… Jangan ganggu saya". Dia tetap saja berkepala batu.
Bahkan ketika saya duduk di sofa kembali, Cynthia mencoba membaringkan
tubuhnya di pangkuan saya. Saya marah dan berdiri, kemudian saya
berjalan dan membaringkan tubuh di kamar. Angin dari fan yang bertiup
dingin dan matahari yang masih nampak garang siang ini membuat saya
jatuh tertidur 5 menit kemudian. Samar-samar saya merasa ada sesosok
tubuh berbaringan di samping kanan. Tubuh hangatnya yang halus
menyentuh lengan saya secara lembut dan mengundang. Sejenak saya
merasa, barangkali si Avi balik lagi untuk mengambil barang mengambil
barang yang biasanya tertinggal, tapi lama-lama saya menyadari tubuh
hangat ini pasti bukan Avi. Saya terkejut lalu bangkit secara tiba-tiba.
Kali ini saya benar-benar murka melihat Cynthia sedang berbaringan
secara santai dan erotis di samping sana. Padahal sebelum menikah, saya
berpikiran untuk tidak tidur dengan mahluk bergender perempuan. Itulah
sebabnya saya bentak Cynthia untuk jangan berbuat kurang ajar, karena
sudah tidak tahan saya berdiri dan membuka pintu. "Keluar..!". Teriak
saya tidak sabar. Wajah Cynthia nampak lesu dan sedih. Dua detik dia
termenung untuk kemudian berjalan perlahan. Saya tidak lagi ingat akan
segala bujuk rayunya, persoalan ini akan semakin membesar jika saya
membiarkan Cynthia lebih lama menetap di kost-an. Langkah Cynthia yang
seksi berhenti 10 meter dari pintu apartemen. Karena saya takut dia
akan merubah niat untuk berbalik kembali ke sini, saya berteriak "Dont
you ever think about that " !!!
Cynthia menatap saya secara kurang ajar, lalu membalas teriakan dengan keras
"Meowwwngggg..!! Meowwwwwnggg ..!!"
Kucing jalanan itu akhirnya kembali ke asalnya…
HE3x, SERIUS AMAT BACANYA!!
Bacalah untuk santapan rohani dan din kita.
Catatan Cinta
cinta bagai arum mawar mengejar warna
adalah pertemuan sepasang hati jingga
menawarkan kasih selembut sulur sutra
o, jiwa siapa tak kan terbawa olehnya
cinta itu warna pelangi sehabis hujan
menyusup sinar mentari di celah dingin telaga
menghangatkan sepotong hati dari belitan sunyi
lalu sukacita mengalir bak air dalam hidup semesta
kita ini kupu-kupu mengembara di padang cinta
digiring angin menabur wewangian sepanjang kalbu
lalu kerinduan bertebaran di atas daun-daun hijau
o, hati siapa tak kan terbawa olehnya
cinta bersemi dalam dada
cinta bersenandung dalam jiwa
jangan dikotori, biarlah ia bernyayi lalala
HOW?
It has been theorized that a woman decided within five minutes of
meeting a man whether or not she will have sex with him. Possibly true,
but there is one catch. Most women I know, myself included, may
initially decide we'll have sex with a guy, but when we find out he's a
bad or a mediocre kisser, we change our minds entirely. We decide we
will never have sex with this guy. He won't even get asked for a
nightcap, much less for breakfast the next morning. As our lips part
while we stand on the doorstep, we will announce that we have an
early-morning meeting or (if you were really awful) that we're actually
already married to someone else.
What we will never, ever say is, "God, you're a lousy kisser. I was
going to have sex with you until just this moment." This is one of the
ways in which men and women differ. If a man is very attracted to a
woman but discovers she's a bad or mediocre kisser, he'll probably have
sex with her anyway if presented with the opportunity. A woman can't get
past a bad kiss. (Unless, of course, she's a horrible kisser herself,
but we're not talking about those women here.) Experience has shown most
women that a bad kiss only spells trouble down the road, so to speak.
After all, if he hasn't mastered kissing and fails to see its sensual
possibilities, what hope is there for, ahem, anything else?
The disappointment of a bad kiss is a recurring topic of discussion
among a group of single women I run with in the park several times a
week. "It tuens into a fabric softener thing," says Nora, a blond from
Dallas, when describing the previous night's date. "You know, where the
guy kisses you and it's so bad but you've got to finish it up so your
mind wanders and you start wondering if you have enough fabric softener
to do two loads of laundry the next day?" She laughs. "So I'm thinking
about that, and the guy says, "Wow! You're very passionate."
Oh, the egos we would crush if men could hear the post-mortems. If
any guys happen to be running with us, they immediately demand to know
what exactly constitutes a bad or good kisser. So we tell them about the
all-purpose litmus test: A bad kisser, reguardless of whether he likes
to secrete a gallon of drool or waggle his head like a dog menacing a
bone, seems to be simultaneously thinking: " When can we get to step
two? And three and four? Is she aroused yet? can I put my hand on her
breast now?" He sees kissing as the next step on a carnal quest. The
good kisser, however, sees the kiss as the destination itself. He kisses
as if he will never do anything else with this woman, as if he never
wants to do anything else with this woman. He kisses as if this is what
he's been dying to do for years and he wants to savor every moment. I
guarentee you that this is when the woman decides there will be other
activities on the agenda.
The first thing to remember: When in Doubt, Go Slowly. make that
first kiss slow and gentle and easy. While you may want to demonstrate
that you're a cauldron of seething desire, save that for later, when
you're both sufficiently warmed up. In the meantime, resist the urge to
mash your face against hers so hard your teeth collide and she ends up
with brush burns from your stubble. One woman in our running group
actually passed out during a particularly bad kiss of this sort, when
the man pressed his face to hers so tightly he blocked off her nose with
his cheek, mistook her thrshing for passion, and suddenly felt her body
go limp. "i was out for maybe thrity seconds," she says. "Fortunately,
he had me in a bear hug, so I didn't hit the group. Of course, he
thought I passed out because the kiss was so good." This is what's known
as the Harrison Ford School of Making Out. Watch him in the movies,a nd
watch his costar's face get twisted out of shape from the sheer force.
this is also why they're panting afterward. It's not from desire, it's
oxygen deprivation. So the second thing to remember while kissing is to
make sure she can still breathe through her nose.
There are other movie stars who perpetuate bad kissing styles.
There's the Tom Cruise Method (as seen in Top Gun), whereby his tongue
is already slithering out before he's met her lips. This is also
referred to as the Lizard-King Style, and once lip-locked, it may also
feature the rather grotesque tongue-insterted-rapidly-in-and-out. Most
women do not cherish the idea of kissing a large anaconda, which is what
this must be similar to. Equally unappealing is when the guy's tongue
seems to be on a thorough search for any food trapped between the
woman's molars. This is her tongue's job, not yours. The only response
possible is for the woman to open her mouth wide and remain motionless
while he finishes his routing, a posture that calls to mind trips to the
dentist.
Like good sex and great dancing, any tongue action should involve a
give-and-take, with both parties allowed the opportunity for interaction
in a saliva-laden minuet. Get into a groove with this, and every now
and then you may want to stop for a short time while still joined at
thelips. Like being on a dance floor and suddenly holding your partner
motionless, it can have the galvanizing effect of heightening the
sensation. this is ideally practiced in places like a dark booth in a
dive bar with a great jukebox. Just make sure your sleeve doesn't catch
fire from the candle on the table.
So although no one wants a tongue completely jammed down her throat,
neither do we want its exact opposite, as favored by Woody Allen, one
of the screen's all-time-worst kissers. Check out the last scene in
Hannah and Her Sisters, and you'll see him pecking away at Dianne Wiest.
This Road-runner-eats-birdseed style of dry, repeated kisses
accompanied by inordinately loud smacky sounds is not what any woman
fantasizes about--even if she's weird enough to fantasize about kissing
Woody Allen. The occasional smacky sound is inevitable and can exciting,
but go easy on the moaning and groaning. Its sounds fake at best and,
at worst, like an unconscious habit, like tuneless whistling.
Daniel Day-Lewis belongs in the kissing hall of fame for Best Use of
Hands. He gently caresses his costar's face and touches her hair, a
model of how hands can increase the erotic pleasure of the moment. Bear
in mind the hands should not be used to prevent the woman from going
anywhere or to clamp her head into one uncomfortable position. Remember
most women like men to toy gently with their hair. After decades of bad
press about sticky hairsprays and helmet hair, most of us have been
using products to enhance "touchability" and are favoring hairstyles
that look good a bit tousled. So go ahead and touch hair. And quit using
all that sticky hairspray and goo so we can go back to touching yours.
Finally, I offer this suggestion: Try opening your eyes. I once
cautiously opened my eyes while kissing and saw a pair of brown eyes
staring back at me, which made the kiss even better because it became
more intimate. Some people find this to be an impossible task (like
sneezing with your eyes open), but while the prevailing belief is that
we must try to block out all other sensations, you may find that kissing
with your eyes open is the sensual equivalent of making love with the
lights on. And if you're going to be kissing for several hours in a
make-out bar, it's a good idea to peek periodically at the where-abouts
of your drinks, her purse, and your wallet.
Here's how to be a great kisser so your kisses are unforgettable!
Whether you've never had your first kiss or have kissed and been kissed a million times before, you'll find out:
• How to make that first kiss special!
• How to hold that special someone when you're kissing!
• Special kisses
• French kissing -- how to do it right! < hi hi hi J >
Yes... here's all the kissing info you need!
We've all seen kissing in the movies -- the way it's so perfect, and the way it just happens. But real life is different.
How to get him to kiss you!
After you've kissed him once, you know he wants to kiss you. But
what if you two have never kissed? The first kiss is the hardest…<
bener banget dan tak akan pernah terlupakan J hi hi hi>
Sometimes people who are nervous send out mixed signals. You might
want him to kiss you, but your nervous behavior might be saying "stay
away."
First of all your posture should be open. Sit or stand close to him.
Face him. Look at him, not at the ground. Don't cross your arms or lean
away; or, instead of "kiss me" you'll be saying "kiss off!"
Look into his eyes. Smile. Get close to him. If you're not holding
hands yet, do it. Ask him to help you remove an earring, or undo the
clasp of that gold chain you're wearing. To do that he's got to put both
hands on your neck. Now turn your head, and look in his eyes, and be
quiet. Smile. If he says anything, just interrupt and whisper his name
softly. He'll kiss you for sure!
How to kiss
When your lips meet, keep them slightly parted and press gently
against his lips. Tilt your head slightly to one side, so your noses
won't get in the way. What do you do next? It depends. If it's just a
little kiss, a peck on the lips, move away but (this is very important)
don't move away all of a sudden, as if you were disgusted by his kiss!
Just move away slowly, maybe while still holding hands, and looking in
his eyes.
On the other hand, if you're French kissing, read on ...
French kissing (or Frenching)
French kisses are kisses in which you also use your tongues. (That's
why you part your lips slightly.) So, after you've started kissing, the
next step is that either he will slip his tongue into your mouth or
you'll slip yours into his. Don't let your tongue go limp but move it
around his, or playfully push his tongue out with yours, then let him
push your tongue back into your mouth, and so on. Repeat this until you
get tired of it (which you never will!)
Kissing do's and dont's
A sure way to ruin a perfect kiss is with bad breath. Carry around
some mints or gum, and have one a few moments before you kiss. Offer him
one too. Avoid spicy foods, garlic and onions just before. Or at least
make sure you're both eating spicy food, so neither will notice. You
might be nervous, but don't giggle during or after you kiss. The other
person won't understand it's nervous laughter. He'll think that you were
laughing at him!
Practice makes perfect! The only way to get good at kissing is to practice. Have fun!
Flooded
So many memories, they flood me
rendering my senses, inoperable
All I see are flashes of you
I smell your cologne
the warm night air
the crisp smell of
freshly laundered sheets
My hands...
I feel the smoothness
of your chest beneath them
blades of grass
pushing, pulling
wiping tears
The water is rippling,
A sweet whisper
beneath the moon
shakes the wind.
Butterflies dance around us
and we are drenched
in the rain their dance has called.
Nothing was ever warmer
than the heat of our bodies
beneath our cold wet clothes,
Our hearts beating and pounding
against each other
Our eyes, bodies and souls locked
together...
by Samantha Johnson